Mayoritas Warga Jakarta menginginkan Gubernur BARU.. Anies Sandi Ok,Oce !


Warga Jakarta menginginkan Gubernur baru.


Mayoritas Warga Jakarta, Gubernur BARU, anis sandi

Dan Alhamdulillah selama empat bulan ini, kami bekerja bersama-sama, PKS, Gerindra, ribuan warganya, ribuan relawan, bekerja bersama mengikhtiarkan perubahan itu. Kami hadir di sini untuk menjawab keinginan warga Jakarta yang menginginkan Gubernur baru.

Tetapi itu semua hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang bisa menentukan, takdirnya telah dituliskan. Bagian kita adalah berikhtiar dan berdoa. 

Allah Yang Maha Kuasalah yang bisa membolak-balikkan hati kita.
Dan Allah juga yang akan membalikkan dan menetapkan hati bapak-ibu semua di rumah, warga Jakarta untuk menentukan pemimpinnya.

Izinkan kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua yang telah terlibat. 
Dan izinkan kami memastikan bahwa ketika kami diamanati maka semua warga Jakarta akan bekerja bersama untuk mewujudkan kota yang maju, warga yang bahagia.

Bukan sebagian, semuanya. Itu komitmen kami.

Dan izinkan kami menyampaikan dengan mengucap Bismillahirahmanirahim kami siap untuk menjalani sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya, Kami do'akan semoga Berhasil menjadi Gubernur Pilihan Warga Jakarta..Aaamiin.

sumber fb anies 

Aparat Penegak Hukum Harusnya Bersikap Persuasif Terhadap Tindak Pidana Terkait Bendera Negara

Aparat Penegak Hukum Harusnya Bersikap Persuasif.


Polisi dan aparat penegak hukum lainnya hendaknya berhati-hati menerapkan pasal-pasal pidana dalam UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara. Pelanggaran pasal-pasal larangan membuat tulisan, gambar dan coretan pada Bendera RI perlu persuasif karena masyarakat awam, bahkan pejabat negara, birokrat dan bahkan penegak hukum sendiri banyak yang belum paham tentang bendera negara, ukuran, bahan pembuatannya, tatacara penggunaannya dan larangan-larangannya.
Bendera Negara RI sang saka merah putih itu, menurut UU, ukurannya pasti yakni warna merah dan putih sama besarnya. Lebar bendera adalah 2/3 ukuran panjangnya. Bahannya terbuat dari kain yang tdk mudah luntur. Ukurannya untuk keperluan2 tertentu juga sudah diatur oleh UU. Dengan demikian, tdk semua warna merah putih adalah otomatis dalah bendera negara RI. Kain yang berwarna merah putih namun tidak memenuhi kreteria syarat2 untuk dapat disebut sebagai bendera RI, bukanlah bendera RI. Ambillah contoh, kaleng susu manis bekas yang bagian atasnya dicat merah dan bagian bawahnya dicat putih, kaleng merah putih itu bukanlah bendera negara RI. Warna merah putih seperti di kaleng susu bekas itu paling tinggi hanyalah "merepresentasikan" bendera RI, namun samasekali bukan bendera RI. Semua ketentuan itu diatur dalam Pasal 4 UU No 24 Tahun 2009.
Selanjutnya Pasal 24 UU No 24 Tahun 2009 itu memuat larangan antara lain larangan merusak, merobek, menginjak-injak, membakar atau melakukan perbuatan lain dengan maksud untuk "menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Bendera Negara". Mereka yang melanggar larangan ini diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak lima ratus juta rupiah.
Larangan juga dilakukan terhadap setiap orang untuk "mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain dan memasang lencana atau benda apapun pada Bendera Negara". Terhadap mereka yang melakukan apa yang dilarang ini diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahu atau denda paling banyak seratus juta rupiah.
Dari rumusan delik pidana UU No 24 Tahun 2009 ini, jelas terlihat bahwa terhadap mereka yang merusak, merobek, menginjak-injak, membakar atau melakukan perbuatan lain yang dilarang undang-undang ini haruslah ada unsur kesengajaan dan niat jahat untuk menodai, menghina atau merendahkan kehormatan bendera negara. Jadi mereka yang tidak sengaja dan tidak mempunyai niat untuk menodai, menghina dan merendahkan kehormatan bendera negara, tidaklah dapat dipidana karena perbuatannya itu.
Namun lain halnya terhadap mereka yang mencetak, menyulam dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain sebagaimana disebutkan dalam Pasal 67 huruf c undang-undang ini, unsur kesengajaan dan niat untuk menodai atau merendahkan martabat bendera negara itu tidak perlu ada. Jadi siapa saja yang melakukannya, sengaja maupun tidak sengaja, ada niat untuk menodai, menghina dan merendahkan atau tidak, perbuatan itu sudah dapat dipidana dengan ancaman penjara paling lama setahun atau denda paling banyak seratus juta rupiah.
Ancaman pidana paling lama setahun terhadap pelanggaran Pasal 67 huruf c di atas, menunjukkan bahwa tindak pidana ini tergolong sebagai tindak pidana ringan. Karena itu, saya berpendapat penegakan hukum atas pasal ini hendaknya dilakukan oleh aparat penegak hukum dengan cara yang bijaksana, jangan dilaksanakan dengan tergesa-gesa. Apalagi penegakannya dilakukan tebang pilih terhadap mereka-mereka yang tidak disukai dan berseberangan dengan pemerintah. Sementara yang lain, yang melakukan perbuatan yang sama, tidak diambil langkah penegakan hukum apapun.
Mengapa saya katakan penerapan Pasal 67 huruf c itu, katakanlah terhadap seseorang yang menulis huruf-huruf atau angka, harus dilakukan secara bijak? Sebabnya adalah sebagian besar warga masyarakat belum mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilarang dan dapat dipidana. Ketidaktahuan itu juga ada di kalangan pejabat birokrasi pemerintah dan bahkan pada aparat penegak hukum sendiri. Coba saja search di internet, niscaya adanya tulisan pada bendera negara itu akan kita dapati dalam jumlah sangat banyak.
Saya ingat jauh sebelum adanya UU No 24 Tahun 2009, adanya tulisan-tulisan pada bendera negara kita tatkala umat Islam dari negara kita menunaikan ibadah haji. Biasanya bendera itu dikibarkan oleh ketua rombongan agar jemaah tidak tersesat dan terpisah dari rombongan. Sekarangpun hal itu masih terjadi. Saya pernah memberitahu ketua sebuah rombongan umroh bahwa menulis sesuatu pada bendera itu dilarang undang-undang dan dapat dihukum. Merekapun terkejut dan mengatakan samasekali tidak mengetahui hal itu.
Kasus Nurul Fahmi
Hari ini Sabtu 21/1/2017 polisi telah menahan Nurul Fahmi yang membawa bendera merah putih bertulisan Arab yang diduga kalimah tauhid dan di bawahnya ada gambar pedang bersilang dan dipasang di sepeda motor waktu demo FPI di Mabes Polri, Jakarta Selatan. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan bahwa Fahmi diduga melanggar Pasal 66 jo Pasal 24 subsider Pasal 67 UU No 24 Tahun 2009.
Pengenaan Pasal 66 terhadap apa yang dilakukan Fahmi adalah sesuatu yang berlebihan. Pasal 66 itu seperti telah saya katakan di atas, dikenakan terhadap mereka yang dengan sengaja merusak, merobek, menginjak-injak, membakar dan seterusnya dengan maksud untuk menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan bendera negara. Fahmi samasekali tidak melakukan ini. Dia hanya membawa bendera merah putih yang ditulisi kalimat tauhid dan digambari pedang bersilang. Karena itu, pasal yang tepat dikenakan untuk Fahmi adalah Pasal 67 huruf c yakni menulis huruf atau tanda lain pada bendera negara.
Polisi nampak dengan sengaja mengenakan Pasal 66 yang lebih berat kepada Fahmi, padahal itu diduga tidak dia lakukan. Sementara terhadap apa yg dilakukannya, yang seharusnya dikenakan Pasal 67 huruf c, justru dijadikan subsider. Selain membolak-balik pasal dalam kasus Fahmi, tindakan penahanan terhadap Fahmi juga dapat dianggap sebagai tindakan berlebihan. Sebab ancaman pidana dalam Pasal 66 itu bukan di atas lima tahun, melainkan selama-lamanya lima tahun.
Pada hemat saya, polisi hendaknya mendahulukan langkah persuasif kepada setiap orang yang diduga melanggar Pasal 67 huruf c, sebelum mengambil langkah penegakan hukum. Sebab jika langkah penegakan hukum atau law inforcement dilakukan terhadap Fahmi, langkah serupa harus dilakukan terhadap siapa saja yang melakukan pelanggaran yang sama. Bahkan langkah penegakan hukum itu harus pula dilakukan terhadap aparat penegak hukum sendiri yang juga patut diduga melakukan pelanggaran yang serupa.
Jika langkah penegakan hukum itu hanya dilakukan terhadap Fahmi, terlepas dia anggota FPI atau bukan, namun dia ditahan gara-gara membawa bendera yang diberi tulisan kalimat tauhid itu pada waktu ada demo FPI, maka terkesan penegakan hukum ini terkait langsung maupun tidak langsung terhadap FPI. Sementara perorangan yang terkait dengan ormas-ormas yang lain yang melakukan hal yang sama, belum ada langkah penegakan hukum apapun juga.
Karena itu, saya menghimbau polisi untuk bersikap obyektif dan mengambil langkah hukum yang hati-hati untuk mencegah kesan yang kian hari kian menguat bahwa polisi makin menjauh dari umat Islam dan sebaliknya makin melakukan tekanan. Tidak semua orang, bahkan di kalangan umat Islam sendiri, setuju dengan langkah-langkah yang diambil oleh FPI dalam segala hal. Hal itu normal saja dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun menjauh dari Islam dan umatnya, tidak akan membuat negara ini makin aman dan makin baik. Karena itu, hikmah- kebijaksanaanlah yang harus ada dan dikedepankan demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.***

Jakarta, 23 Januari 2017

TULISAN BENDERA TAUHID DI BENDERA MERAH PUTIH INDONESIA

tulisan-bendera-tauhid, bendera-merah-putih.

Sungguh, Allah Tidak Pernah Keliru Menunjuk TentaraNya
Hari ini saya bersama teman saya berkunjung ke rumah orangtua dan istri Bang Nurul Fahmi (NF) untuk sekedar memberi dukungan moril. Masya Allah, betapa saya berkali-kali merinding mendengar cerita sang ibu dan istrinya.
Ya, sebagaimana penuturan kuasa hukum Bang Fahmi, Kamil Pasha, bahwa memang benar bendara merah putih yang bertuliskan kalimat tauhid itu telah dibawanya dalam setiap aksi Bela islam. Dan pada senin (16 Jan) pun bendara ini dia bawa ketika longmarch al-azhar ke mabes polri. Sang Ibu menuturkan bahwa bang fahmi bercerita kalau sepulang longmarch dia merasa ada orang-orang yang memotonya. Tapi dia tak berpikir macam-macam.
Keesokan harinya, mulailah sosmed dihebohkan oleh berita bahwa kapolri akan mengusut pelecehan bendera merah putih yang dituliskan bahasa arab. Bang Fahmi pun kaget. Sebab dia benar-benar baru tahu bahwa ada pasal terkait dengan hal itu. Dia murni melakukan hal itu karena ketidaktahuannya dengan pasal tersebut. Ini jelas wajar, sebab kita bukan pertama kali melihat ada bendera merah putih digambar dan ditulis, bukan? Telah begitu banyak bendera merah putih yang diukirkan gambar dan tulisan oleh berbagai oknum dan itu tidak pernah dipermasalahkan apalagi sampai dipolisikan. Kalau lah memang menulisi bendera adalah bentuk kriminal tentu bang Fahmi bukan orang pertama yang ditangkap. Maka ini jelas sekali ada bentuk ketidakadilan aparat kepolisian terhadap umat islam.
Kemudian Bang Fahmi pun mengabari Ibunya tentang berita tersebut dan menghubungkannya dengan peristiwa sepulang longmarch saat dia merasa ada orang-orang yang memoto dirinya.
Wallahi, pernyataan Ibunya inilah yang membuat saya benar-benar terharu sekaligus merinding, "kamu harus tegar. Kita ada di jalan yang benar. Orang hebat memang harus ada ujiannya. Semangat!" Demikian kata sang Ibu saat mendapati berita pengusutan itu.
Ya Robb...
Pada hari kamis, Bang fahmi mendapat panggilan kerja di sekolah alam sebagai guru tahfidz dan rencananya akan aktif mengajar senin besok. Ba'da itu, Bang Fahmi konsultasi kepada Ust. Munawir terkait berita tersebut. Ust. Munawir pun menyarankan agar dia meminta bantuan kepada LBH Munarman. Bang Fahmi baru berencana akan kesana esok pagi (jumat). Dan kamis sore itu ia memutuskan untuk menginap di rumah kakaknya di Cilandak. Saat itu dia mulai merasa bahwa ada orang-orang yang mengikutinya. Tapi dia tetap tenang.
Dini hari, pukul 01.00 polisi datang menggerebek rumah itu dan menangkap bang Fahmi. Dari penuturan sang Ibu jumlah polisi itu 23 orang. "Mereka menangkap anak saya seperti menangkap seorang gembong narkoba". Dari Cilandak itu, para polisi pun datang ke kediaman orangtua Bang Fahmi di Tanah 80 untuk mencari barang bukti.
Demikian sampai saat ini Bang Fahmi masih ditahan. Tapi masya Allah betapa indah persaudaraan dalam islam, sang Ibu menuturkan begitu banyak pengacara yang menawarkan bantuan sukarela untuk membebaskan Bang Fahmi. Sekitar 20 orang. Sampai akhirnya dibuatlah sebuah Tim. Doakan ya saudara sekalian, semoga bang Fahmi cepat dibebaskan.
Saat hendak berpamit pulang, sang Ibu mengantar kami menuju kediaman mertua bang Fahmi, tempat sementara dimana Istri dan anak Bang fahmi yang baru lahir tinggal. Ya, 8 Januari lalu, Hafidza Nur Qaila, baru saja dilahirkan. Saat pertama melihatnya, mata saya tertuju pada sebuah Al-Qur'an yang terletak tepat di atas kepala Dede Hafidza. "Biasanya, abinya mengajikan dia setiap pagi sebelum berangkat kerja." Cerita sang Istri. Mungkin dia melihat kemana arah mata saya memandang. Allah... betapa terharunya saya. Wahai Nak, kamu pasti rindu kan mendengar tilawah abimu? Bersabar sebentar ya sayang, Abimu sedang berjuang melawan ketidakadilan!
Mendengar berbagai tutur kata sang istri tentang suaminya, saya menarik satu kesimpulan. "Wahai Allah, kini saya tahu mengapa Engkau memilihnya!"
Ternyata Bang Fahmi telah merampungkan program tahfidz Qur'an di Masjid Qiblatain, Arab Saudi. Ya, dia seorang hafidz Qur'an. Dadanya penuh dengan ayat-ayat Allah. Pantas, sangat pantas jika dia marah ketika seorang Ahok menghina ayat suciNya. Pantas jika dia kemudian tidak pernah absen sekali pun dalam aksi-aksi Bela islam ini. Karena dia memang mencintai Al-Qur'an. Mencintai Islam. Dia sedang menunjukkan keberpihakannya. Dan Allah menguji cintanya... Apa dia menyerah? Tentu tidak. Saat ditanya kuasa hukumnya apakah dia kapok? Jawabannya, "TIDAK." Dan dia menghadapi ini semua dengan tenang. Sampai Pak Polisi heran dan berkomentar... "kok tenang banget sih." Wahai Pak Polisi, bagaimana ia bisa gelisah sementara hatinya penuh dengan Al-Qur'an? Sementara jiwanya sarat dengan cinta pada Allah? Kau mungkin bisa memenjarakan fisiknya, tapi tidak dengan semangatnya! tidak dengan cintanya! Sungguh kasus yang menimpanya justru semakin meningkatkan pendirian kami (umat islam) bahwa kami akan tetap memperjuangkan keadilan. Bahwa keadilan ini adalah HAK kami yang telah kalian rampas dan campakkan!
Jangan takut, wahai umat islam. Ini kutitipkan foto bayi mungil yang tetap bisa tertawa meski ayahnya kini ada dibalik jeruji penjara. (PEMUDA YANG DITANGKAP KARENA TULISAN BENDERA TAUHID DI BENDERA INDONESIA)

Komentar Nitizen di Facebook Group antara lain:
--------------------------------------------------------- 
Darma Putra :  Ya allah semoga engkau beri hikmah yg besar kpd saudara kmi/nurul fahmi.pesan untuk umat islam jng sdkitpun buat keslahn.krn umat islam skg lagi dicari salahnya.untuk ditngkapi.

Casdut Ade Jaelani akan banyak hikmah dan hidayah setelah kejadian ini...sabar bang fahmi..Allah bersama orang2 yg sabar...dan mereka tidak sadar akan doa doa orang yg terdzolimi..Allahu Akbar

Agung Inilah bukti bhwa hukum bsa dbeli... Kita tnggal dinegara mayoritas islam tp sprti tinggl di negara minoritas islam.

Madi Azhar Subhanallah,orang yg sabar dan ikhlas sewaktu di timpa musibah adalah kekasih ALLAH SWT.

Mas Iwan Ende Panji Rosululloh INSYAALLAH BERKIBAR DI INDONESIA. 

Anjas Mara Subhanallah, Smoga Nurul Fahmi tetap tegar dlm menghadapi ujian dari Aparat yg Zolim


Iyansyah Yuansta semoga Allah memberikan azab kpda pemimpin bangsa ini yg telah berhianat .dan semoga Allah mmbrikan siksaan dunia ahirat kpda aparat yg menangkap .apa lagi pimpinan tertinggi nya .semoga mereka hidup sensara dunia ahirat

Semoga Saudara Nurul Fahmi Dibebaskan dari Segala Tuduhan polisi yang menzoliminya. Aamin.
 
Sumber dari Group FB Dewi Kusnita Kusnita

Apa Kata Ustadz,Buya, Kiyai,Habaib,syekh Tentang FPI


Habib Rizieq shihab

1. Buya Yahya :
"Umat Islam beruntung dengan Adanya FPI."

2. Almarhum Zainuddin MZ :
"Apa yang dilakukan FPI sudah tepat, saya makmum saja sama beliau (Habib Rizieq)."

3. Almarhum Habib Mundzir (Ketua Majlis Rasululllah) :
"FPI bukan Islam garis keras, tapi lebih tepatnya Islam garis tegas."

4. Ustadz Arifin Ilham :
"Siapa yang ingin membubarkan FPI? Kebebasan apa yang ingin dicari? Saya Muhammad Arifin Ilham mendukung perjuangan ayahanda Habib Rizieq Syihab terus berdakwah dan berjihad."

5. KH. Kholil Ridwan (Mantan Ketua MUI) :
"Masyarakat hanya melihat apa yang dilakukan FPI, tidak pernah bertanya kenapa FPI melakukan demikian."

6. KH AA Gym ketika ditanya tentang FPI :
"Saya tidak bisa menilai hanya berdasarkan
pemberitaan dari media, karena media juga sering kali ada udang dibalik batu, dalam Al-Quran juga dijelaskan bahwa jika kita mendapat satu kabar berita, jangan langsung percaya dan harus bertabayyun (mengkonfirmasi) terlebih dahulu dari yang bersangkutan, kebetulan saya pernah bertemu dengan Habib Rizieq, sewaktu beliau sakit. Dan Habib berpesan kepada saya "Aa... kita bagi tugas ya??? Aa yang menyemai padi, Habib yang membasmi hama." Kurang lebih demikianlah sudut pandang Aa Gym, Ulama yang dikenal dgn kelembutan, kesantunan & Managemen Qolbunya.

7. Ustadz Felix Siauw (Mualaf) :
"FPI tidak seburuk yang kita pikirkan kalau berbicara tentang premanisme, pemerintah jauh lebih premanisme dari pada FPI."

8. KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi'ie (Pimpinan Umum Perguruan As-Syafi'iyah) :
"Kami mengajak segenap umat Islam dan organisasi yang berbasis Islam untuk mendukung keberadaan dan perjuangan FPI, karena kami menilai FPI sangat konkrit dan konsisten dalam memperjuangkan Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Kami mengajak seluruh umat Islam untuk bersimpati terhadap perjuangan FPI, terus mewaspadai dan tidak terpengaruh provokasi gerombolan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang selalu mendiskreditkan dan mengadu domba FPI dengan kelompok anak bangsa lainnya."

9. KH. Hasyim Muzadi (Ulama NU) :
"FPI Adalah ormas Islam terpopuler di seluruh dunia, FPI lebih jelas NKRI-nya, Saya mendukung perjuangan FPI dalam memberantas kemaksiatan dan Aliran sesat di Indonesia."

10. Dr. Salim Segaf Aljufri (Menteri Sosial era Presiden SBY) :
"FPI Semakin diterima masyarakat, dalam perjalanannya FPI sudah semakin kokoh. Insya Allah FPI semakin kokoh, ibarat pohon kalau sudah 15 tahun itu sudah mengakar kemana-mana,"

"FPI semakin hari semakin bagus, semakin meningkat dan semakin diterima masyarakat. Saya yakin kedepan FPI bisa melakukan yang terbaik buat bangsa dan negara," ujar Dr. Salim Segaf.

Dalam kegiatan sosial, Dr. Salim Segaf mengapresiasi kontribusi FPI selama ini. "Saya pernah mengunjungi Habib Rizieq dan kawan-kawan FPI ketika bencana tsunami Aceh, saya salut kepada FPI yang telah mengevakuasi puluhan ribu mayat ketika itu," ujar Mentri Sosial.

"Saat bencana Tsunami Aceh saya bertemu Habib Rizieq, ternyata beliau dan laskar FPI itu tinggal di kuburan dengan mendirikan tenda-tenda bukan di hotel. Habib Rizieq memimpin laskar untuk mengevakuasi mayat selama 4 bulan, Subhanallah inilah yang FPI lakukan. Bayangkan, tinggal di kuburan, kita semalam aja udah takut, ini 4 bulan,"
Selain itu, menteri sosial berpesan agar sesama umat Islam harus saling mengasihi agar mendapatkan pertolongan Allah.

11. Ustadz Yusuf Mansyur : 
"Saya ingin menjadi pelurunya Habib Rizieq dibidang Ekonomi (pada saat Ta'lim bulanan yang berjudul " Membeli Kembali Indonesia").

12. Syekh Quds dari Iraq
"Hanya FPI dan Habib Rizieq yang terkenal di Iraq."

13. Alhabib Ali Bahar Bin Smith (Cendikiawan dari Kalangan Habaib dan Dosen UIN) Beliau mengatakan : 
"Saya kesini (Ta'lim bulanan Habib Rizieq) mencari sesuatu yang tidak ada di tempat lain atau Majlis Lain."

Yuk kritis terhadap pemberitaan media, jangan mau "taklid buta" terhadap media, asal denger berita, langsung percaya aja tanpa mau mencari tahu fakta yang sebenarnya. Semoga kita semua diberikan kebenaran dan hidayah oleh Allah agar tidak mudah membenci sesuatu yang mungkin sebenarnya baik di mata Allah Swt. Aamiin YRA.

Ini Hanya sebagian kecil saja yang dapat ditulis tentang FPI, Tunggu aja kelanjutannya.. Cieeee pake berseri segala yeeeeeee..!!   

Lagu IMAN Cipt : Ahmad Dhani & Dato Sri DR Rozaini bin Hasan #SPIRIT212

IMAN

iman, ahmad dhani,#spirit212, aksi damai, aksi bela islam, habib rizieq

Penyanyi : Ahmad Dhani
Cipt : Ahmad Dhani & Dato Sri DR Rozaini bin Hasan

Bila kebatilan merajalela
Bila kebenaran sulit ditegakkan
Kita hanya melihat
Dan terus membiarkan
Pasti sampai saatnya
Balasan akan tiba

Dan kitalah KHALIFAH
KHALIFAH KEBANGKITAN
Dan harus punya nyali
Menjunjung kebenaran
Hukum tumpul ke atas
Hanya tajam ke bawah
Bismillahi Tawakkal
Sampai saatnya mati

Tak ada Sang Kekuatan selain kekuatan dari Allah
Dan tak ada daya upaya selain pertolongan Allah

Kita harus berani
Berani kerna benar
Dan harus punya nyali
Nyali untuk mati
Matinya orang-orang yang selalu berjalan
Di atas jalan Allah
Kekal selamanya

Tak ada Sang Kekuatan selain kekuatan dari Allah
Dan tak ada daya upaya selain pertolongan Allah

Firaun dan Raja Namrus akhirnya pun mampus
Kau lihat sang raksasa akhirnya pun binasa
Tanamkan dalam jiwa
Allah bersama kita
Dan ucapkanlah takbir … ALLAHU AKBAR

Tak ada Sang Kekuatan selain kekuatan dari Allah

Dan tak ada daya upaya selain pertolongan Allah

GILIRAN SAKSI USTADZAH IRENA HANDONO HAJAR HABIS TIM PENGACARA AHOK

SAKSI USTADZAH IRENA HANDONO HAJAR
Alhamdulillah wa syukurillah, Allah SWT memang Maha Kuasa dan selalu memenangkan kebenaran, ditengah berbagai tipu daya dan penggiringan opini yang masif dilakukan oleh para pembela penista agama.
Pada sidang kelima kasus penghujatan agama Islam yang dilakukan oleh Zhong Wan Xie alias Ahok, hari ini Selasa 10/1/2017 di Auditorium Kementerian Pertanian Pasar Minggu Ragunan Jakarta Selatan, Jaksa Penuntut Umum mendatangkan Ustadzah Hajjah Irena Handono sebagai salah satu saksi pelapor.
Subhanallah, dengan gilang gemilang Ustadzah Irena memaparkan berbagai fakta kejahatan Ahok terhadap umat Islam, yang tak mampu sedikitpun untuk dibantah oleh tim pengacara Ahok.

Alhamdulillah itu berarti hingga hari ini para saksi umat Islam yang hadir di persidangan selalu menang telak melawan berbagai pelintiran, tipu daya dan argumentasi para pembela penista agama.

Dalam keterangannya Ummi Irena menyebutkan Ahok telah merobohkan Masjid, dan mengatakan bahwa umat Islam tidak diperkenankan untuk kegiatan keagamaan di Monumen Nasional (Monas).

Apa yang dikatakan oleh Ummi Irena sang mantan Biarawati Katolik yang seusai masuk Islam mendirikan Irena Center untuk membina para mualaf ini memang benar adanya. Yaitu Ahok telah merobohkan Masjid Baitul Arif di Jatinegara dan Masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki.

Sedangkan mengenai Ahok melarang umat Islam untuk melakukan kegiatan keagamaan di Monas itu pun fakta adanya. Sehingga ormas Islam seperti Majelis Rasulullah SAW sampai terpaksa memindahkan lokasi dzikir akbar dari Monas ke Masjid Istiqlal, karena dilarang oleh Ahok untuk mengadakan dzikir di Monas.

Tidak itu saja, seusai melarang umat Islam berdzikir di Monas, bak Monas itu punya bapak moyangnya Ahok juga melempar fitnah bahwa tujuan Majelis Rasulullah ingin mengadakan dzikir akbar di Monas semata karena ingin membuka lapak untuk mencari uang. Na'udzubillahi min dzallik.

Sebaliknya fakta membuktikan, untuk umat Kristiani saudara seiman Ahok yang ingin merayakan Paskah di Monas larangan itu tak diberlakukan oleh Ahok.

Jadi bohong besar alasan Ahok bahwa larangan itu untuk semua umat beragama. Karena faktanya pada Perayaan Paskah Nasional 5/4/2015 6000 orang hadir di Monas dalam perayaan hari yang menurut keyakinan Ahok dan saudara seimannya dalam Kristus, adalah hari kebangkitan Tuhan mereka Yesus Kristus dari kematian.

Namun bukan pengacara Ahok namanya kalau tidak berusaha melakukan intimidasi kepada para saksi. Apapun akan mereka lakukan untuk mengaburkan fakta yang terjadi di ruang persidangan.

Sama seperti di sidang keempat lalu kepada saksi Habib Muchsin bin Zeid, Ustadz Novel Bamukmin dan Gus Joy, tim pengacara yang dibayar mahal ini tetap berusaha untuk menjungkirbalikan fakta apapun yang ada demi untuk membela kepentingan Ahok sang majikan.

Oleh para pengacara Ahok, para saksi seakan mau diputarbalikkan menjadi terdakwa, sebaliknya sang terdakwa dalam hal ini Ahok sang penista justru mau dipoles bak malaikat nan suci.

Alih-alih berterima kasih kepada Ummi Irena Handono yang telah memaparkan fakta sebenarnya, pengacara Ahok justru mengancam mau melaporkan Ummi Irena ke polisi.

“Kita sudah ambil sikap dan keputusan–selain kita minta majelis hakim melakukan proses hukum, untuk kesaksian palsunya. Kita minta laporan ke polisi untuk Ibu Irena ini karena berbahaya apa yang Ibu Irena bilang ini–karena ini akan jadi persoalan yang timbul permasalahan di masyarakat kan: keterangan yang tidak benar,” ujarnya.

“Kita ingin memberikan pelajaran bahwa seseorang tidak bisa melaporkan seenaknya dan memberikan keterangan-keterangan yang bertolak belakang dengan fakta sebenarnya,” ujar Humphrey Djemat pengacara Ahok.

Pemaparan Humphrey ini sungguh aneh, tidak berdasar dan terlihat jelas hanya ingin mencari-cari kesalahan. Di sisi lain Hajjah Irena pun mengakui bahwa ia telah memberikan kesaksian sesuai fakta sebenar-benarnya.

Menurutnya tuduhan yang ditudingkan kepadanya merupakan taktik belaka. Dalam kasus penistaan terhadap surat Al-Maidah 51 Ummi Irena menyatakan ia telah mengambil intisari yang pentingnya saja.

“Ya seperti itu juga sudah klasik. Selalu begitu. Sementara orang itu maksudnya memotong bukan menghilangkan yang penting–menghimpun yang ga penting. Orang motong itu biar ga kepanjangan–intisarinya yang diambil, poin-poin penghinaan itu sendiri,” kata Ummi Irena.

Ummi Irena juga mengatakan bahwa pihaknya tidak takut tentang pelaporan tersebut. Baginya, hal itu tidak perlu dikhawatirkan sama sekali. Ia bahkan tidak keberatan bila kuasa hukum Ahok ingin mengadukannya ke pihak berwajib.

Hajjah Irena mengaku biasa saja dan memang sudah mengetahui bahwa para pengacara Ahok akan melakukan taktik intimidasi terhadap dirinya, sama seperti yang telah mereka lakukan terhadap saksi-saksi sebelumnya.
“Ya kita lihat aja. Siap. Jadi itu semua fakta. Jadi silahkan saja,” katanya.

“InsyaAllah saya tidak akan diam. Kita tunggu apa reaksinya. Dia (Ahok) pasti berkeinginan kasus ini berhenti. Ya memang dia melakukan intimidasi, saya paham itu," imbuh Ummi Irena.


Ummi Irena juga mengaku siap membuktikan bahwa apa yang dikatakannya merupakan fakta. Ia mengaku bahwa secara gamblang menyatakan agama Islam telah dinodai. Hal ini, menurut Irena membuat tim kuasa hukum Ahok mencari-cari kesalahan.

“Kita akan membuktikan bahwa apa yang saya ungkap itu memang terus terang menohok. Jadi demikian gamblang lah saya membuktikan bahwa Al-Maidah 51 itu memang dinodai. Penodaan agama. Dan dilakukan secara berulang. Tapi dengan demikian banyak rekayasa. Mereka menolak, dan kemudian yang dijadikan sasaran adalah masalah-masalah pribadi yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali,” ujarnya.

Lucunya lagi, dalam persidangan kali ini para pengacara Ahok juga menilai Ummi Irena saksi pelapor yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum ini tidak bersikap tabayun atau mengkonfirmasi ulang atas pidato Ahok di Kepulauan Seribu.

Padahal Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri sudah resmi mengeluarkan pendapat keagamaan, yang nilainya lebih tinggi dari fatwa, bahwa Ahok telah menodai agama Islam dan menghina Ulama.

"Apakah saudara saksi pernah bertanya ini atau mengklarifikasi pidato yang disampaikan di Kepulauan Seribu?" kata Sirra.
Tentu saja argumen bodoh Sirra ini dengan mudah dilindas oleh Ummi Irena. Mendengar pertanyaan tersebut, Ummi Irena justru mementahkan pertanyaan Sirra.

Menurut Ummi Irena, kuasa hukum tidak mengerti soal pengertian dari kata tabayun tersebut. Bahkan, Ummi Irena menilai kuasa hukum menggunakan istilah yang tidak pada tempatnya.

"Ketahuilah, istilah tabayun itu merujuk pada istilah dalam hukum Islam. Di Al-Quran Bapak temukan di mana? NKRI ini kita ini berdiri berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang 1945. Kalau Indonesia ini pakai hukum Islam, terdakwa sudah kami usir," kata Ummi Irena.

Sirra kembali melontarkan pertanyaan mengapa Ummi Irena tidak pernah berusaha mengklarifikasi pernyataan Ahok tersebut. Namun, lagi-lagi Ummi Irena dengan brillian membantah pernyataan Sirra Prayuna. Menurut dia, dirinya tidak wajib untuk meminta klarifikasi soal informasi apa pun yang ia terima.

"Saya ini sangat taat kepada aturan hukum Indonesia. Oleh karena itu, menurut saya, ini menjadi tugas kepolisian yang mengecek dan
ricek informasi tersebut. Kewajiban saya hanya melaporkan," kata Irena.


Demikian jawaban brillian Ummi Irena untuk membantah pernyataan Sirra Prayuna yang membuat lidah Sirra terasa kelu tak bisa bicara bagaikan orang yang terkena serangan stroke karena tak mampu membantah sedikitpun fakta tersebut.

Jawaban Ustadzah Irena Handono Cerdas dan Jitu! dipersidangan penoda agama Ahok


Irena Handono menjadi saksi pelapor kedua yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang digelar di auditorium Kementerian Pertanian, Jalan Harsono, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (10/1).


Salah satu tim penasihat hukum Ahok, Sirra Prayuna, kembali menanyakan terkait saksi pelapor yang tidak melakukan tabayun (klarifikasi ulang) sebelum melaporkan Ahok ke Kepolisian ihwal ucapan pejawat tersebut saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 sehingga membuat tersinggung sebagian umat Islam.

Menjawab pertanyaan Sirra, Irena justru menantang penasihat hukum Ahok itu. "Anda sudah siap dengan jawabannya? Ketahuilah tabayun adalah hukum di dalam Islam. NKRI itu negara hukum. Kalau dalam hukum Islam, terdakwa sudah diusir," ujar Irena di auditorium Kementerian Pertanian, Jalan Harsono, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (10/1).

Mendengar jawaban Irena, ketua majelis hakim, Dwiyarso Budi Santiarto, langsung menanyakan apakah tidak sebaiknya sebelum melapor melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Irena pun langsung menjawab bahwa klarifikasi adalah tugas dari Kepolisian. "Saya taat hukum, yang memiliki tugas untuk cek dan ricek itu Kepolisian. Saya sebagai warga negara hanya memiliki hak untuk melapor," kata Irena.


Tak puas dengan jawaban Irena, Sirra langsung menimpali dengan pertanyaan mengapa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak melakukan tabayun sebelum mengeluarkan fatwa ihwal mantan bupati Belitung Timur itu yang telah menghina Alquran. "Kalau untuk itu kan ada saksi ahli dan bisa langsung ditanyakan ke MUI," kata Irena.

Dwiyarso pun sepakat dengan ucapan Irena. "Saudara bisa tanya ke yang bersangkutan yaitu saksi fakta," katanya.


Dalam sidang kali ini, JPU dijadwalkan mendatangkan lima saksi. Namun, JPU hanya mendatangkan empat saksi. Saksi tersebut, antara lain Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah Pedri Kasman, Wahyudin Abdul Rasyid dari MUI Bogor,  Burhanuddin, dan Irena Handono.

tambahan, "Selain di Pulau Seribu, ternyata terdakwa melakukan berulang kali, tanggal 31 Maret 2016 konferensi pers di Balai Kota penodaan Al-Maidah, saya sudah lihat videonya. Tanggal 21 September 2016 terdakwa di depan DPP NasDem dalam konferensi pers mengucapkan kalimat 'istilah berdebat ini tentu kalau dia bawa Surat Al-Maidah 51...' ini merupakan pertarungan," kata Irena bersaksi dalam sidang lanjutan Ahok di auditorium gedung Kementerian Pertanian, Jl. RM Harsono, Ragunan, Jaksel, Selasa (10/1/2017) (detik)

sumber http://news.beritaislamterbaru.org/2017/01/masya-allah-tim-kuasa-ahok-cecar.html

*Himbauan untuk Warga Jakarta saat Pilkada Dilakukan *

*Himbauan untuk warga Jakarta saat pilkada*


Jadwal Pilkada DKI 15 Februari 2017 adalah Saat Dimulai Pemungutan Suara dan Perhitungan Suara dan tanggal 16 Februari-27 Februari 2017 Rekapitulasi Suara. Next..

*1. Setelah selesai nyoblos jangan ada yang pulang atau meninggalkan TPS, bawa pekekalan masing-masing, bawa sajadah sekalian dzikir bersama sampai diumumkan pemenangnya.*


*2. Kalau ada pemilih yang mencurigakan (orang-orang impor) langsung tangkap, foto kirim kemedia SOSIAL dan diproses, lalu serahkan ke POLISI, kawal terus, kalau ternyata identitasnya palsu segera anulir suaranya dan serahkan orang ke pihak yang berwajib.*


*3. Catat angka penghitungan suara sementara ditiap tps untuk dicocokkan dengan penghitungan final saat diumumkan, kalau ternyata beda cepat diproses, jangan biarkan kecurangan ada pada pemilu, karena pasti umat islam yang dirugikan.*


*4. Jangan biarkan pengawasan pilkada diserahkan kepada saksi TPS, mereka jumlahnya sangat sedikit, rentan terhadap tekanan dan intimidasi. Mari kita kawal pemilu dengan people power, mari sukseskan pilkada DKI Jakarta yang bersih.*


*Note: Himbauan ini selain menghimbau seluruh warga DKI untuk ambil bagian langsung demi tegaknya demokrasi yang jujur juga untuk memberikan tekanan psikologi kepada para pelaku curang, 

silahkan dibagikan/dishare ke facebook, twitter, G+ untuk memastikan bahwa informasi ini sampai kepada seluruh warga DKI Jakarta.

WAW ! DAHSYATNYA KEKUATAN DARI DALAM DIRI KITA

DAHSYATNYA KEKUATAN DARI DALAM

KEKUATAN DARI DALAM DIRI, anda ingin tahu, anda ingin, tips ampuh
Saya punya ayam sedang Angkrem/ngerami (supaya telur menetas jadi anak ayam) Untuk menetaskan telur, kita harus membiarkan anak ayam berusaha untuk menetas sendiri. Jika kita berusaha membantu, yang ada adalah ayam itu akan mati atau tidak berkembang sempurna. 
Dalam hidup kita pun sama. Kadang, ketika mengalami kesulitan, kita mengeluh dan merasa mengapa tidak ada yang membantu kita. Mengapa kita harus berjuang dan menderita. Padahal, proses inilah sebenarnya yang kita perlukan untuk berkembang menjadi lebih kuat. Jika kita dibantu dan tidak pernah merasakan kesulitan dalam hidup, yang ada adalah kita akan menjadi lemah, mudah menyerah, dan akhirnya mati.

Jangan pula mudah membiarkan kekuatan luar masuk untuk mempengaruhi pikiran dan hidup kita. Misalnya, perkataan negatif orang lain, atau perbuatan yang menyakitkan hati. Ketika kita membiarkan kekuatan ini datang untuk menghancurkan kita, maka kita akan hancur.

Pahamilah bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam diri. Kita memang tidak bisa mengontrol apa yang akan terjadi pada kita, tetapi kita selalu bisa mengontrol diri masing-masing, untuk bereaksi lebih tepat dan menjadi lebih kuat. 🐣🐥

Penulis : Maman Sulaiman